01 December 2006

PENELITIAN SOSIAL DAN PENDAMPINGAN ORANG MUDA

Oleh: Felix Iwan Wijayanto


LATAR BELAKANG SITUASI
Banyak sekali pengandaian-pengandaian (asumsi-asumsi) yang dipercaya bisa kita jadikan dasar pendampingan orang muda. Asumsi-asumsi itu dirumuskan dalam ungkapan-ungkapan seperti: orang muda adalah generasi yang “sedang mencari identitas”, oleh karena itu sedang “labil”. Bahkan banyak orang percaya bahwa orang muda “lebih suka hura-hura”, “tidak suka yang serius-serius”, dan oleh karena itu “belum bisa bertanggung jawab”. Akibatnya, pengurus, pendamping atau pemerhati orang muda, lebih suka mengondisikan orang muda sesuai asumsi-asumsi tersebut. Misalnya mendorong atau menyuguhkan kesempatan kepada mereka untuk “mencari identitas”, membiarkan mereka terus-menerus “labil”, menyelenggarakan kegiatan yang lebih banyak “berhura-hura” daripada yang “serius”, sembari membatasi ruang “tanggung jawab” mereka hanya di seputar hal-hal kecil, remeh-temeh, bukan yang besar-besar (misalnya dalam pengambilan keputusan).

Padahal, tak banyak yang berusaha mencari tahu atau membuktikan sejauh mana asumsi-asumsi itu benar-benar terjadi. Selain itu, konon banyak masalah yang dihadapi orang muda: masalah keluarga mereka masing-masing, masalah studi, masalah mencari pacar, masalah pergaulan (sex) bebas, masalah penyalahgunaan obat terlarang, masalah kurang minatnya mereka bergabung dalam organisasi, masalah apatisme orang muda di bidang sosial kemasyarakatan (politik-ekonomi-budaya), dsb. Namun, tak banyak orang yang mencoba mencari tahu lebih lanjut: benarkah masalah itu terjadi, berapa orang yang mengalami, dalam peristiwa atau kasus apa saja, dan apa penyebab-penyebabnya.

Salah satu cara yang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki situasi semacam itu adalah melalui penelitian sosial.

APA ITU “PENELITIAN SOSIAL”?
Penelitian (research-Ingg.) adalah kegiatan meneliti, mempelajari dan mengambil makna atas sesuatu yang terjadi. Sedangkan meneliti itu sendiri berarti mencermati atau menaruh perhatian pada sesuatu secara lebih serius dan teliti. Maka penelitian mengandung makna suatu kegiatan mencermati, mempelajari dan mengambil makna dari sesuatu yang nyata-nyata terjadi secara serius dan teliti. Penelitian sosial berarti penelitian yang dilakukan dalam dan tentang kehidupan sosial, yakni kehidupan bersama di antara individu-individu manusia (masyarakat), termasuk orang muda.

Pertanyaannya, apakah ada penelitian khusus tentang orang muda? Tentu saja ada kalau kita mengusahakannya. Siapapun bisa kita teliti, sejak kelompok balita, anak-anak, orang muda hingga orang tua, laki-laki maupun perempuan. Apapun yang ingin kita ketahui lebih jauh, bisa kita teliti.

Beberapa pengalaman penelitian tentang orang muda yang pernah dilakukan misalnya: Penelitian Gaya Hidup Beragama Kaum Muda Katolik di KAJ/K3AJ (Kerja Sama PPM Unika Atma Jaya Jakarta dan Komisi Kepemudaan KAJ, 1999), Penelitian Opini Orang Muda Katolik tentang Situasi Masyarakat, Gereja dan Orang Muda Katolik di KAJ (Divisi Litbang K3AJ, 2003), Penelitian Masalah Pendampingan Kaum Muda Katolik di Kevikepan Semarang Keuskupan Agung Semarang (Tim Kepemudaan Kevikepan Semarang, 2002), Penelitian tentang Remaja (Kerja Sama Panitia Temu Pastores KAJ 2003 dan PPM Unika Atma Jaya Jakarta, 2003).

MANFAAT PENELITIAN DALAM PENDAMPINGAN ORANG MUDA
Dari beberapa pengalaman, penelitian tentang orang muda bisa bermanfaat:
(1) melengkapi pemahaman dan gambaran kita tentang situasi konkret orang muda yang kita teliti.
(2) menguji asumsi-asumsi yang mendasari pendampingan orang muda, apakah benar-benar terjadi (real).
(3) menjadi dasar pengambilan keputusan, perencanaan sistem/struktur organisasi dan perencanaan program.
(4) menjadi acuan evaluasi/penilaian sistem organisasi dan program.

Selain itu, ada sejumlah pihak yang berpotensi memiliki kepentingan dengan penelitian dan hasilnya, misalnya:

Anggota Kelompok/Organisasi. Dengan membaca dan mempelajari hasil penelitian, orang muda sebagai anggota kolompok/organisasi bisa mengetahui situasi mereka sendiri secara konkret dan obyektif. Selain itu, mereka bisa juga mengembangkan pemikiran tentang situasi mereka sendiri jika hasil penelitian tersebut didiskusikan dan direfleksikan bersama. Bahkan jika mereka bersedia melibatkan diri dalam proses penelitian, mereka akan mendapatkan tambahan pengalaman, melatih cara berpikir yang lebih kritis dan akhirnya mengembangkan kualitas diri mereka sendiri.

Pengurus dan Pendamping Kelompok/Organisasi. Pengurus dan pendamping membutuhkan dasar-dasar bagaimana caranya mengelola (manajemen) organisasi secara lebih tepat. Teori-teori manajemen organisasi memang bisa diterapkan. Tapi, itu semua harus melalui proses kontekstualisasi atau penyesuaian dengan kondisi organisasi mereka sendiri. Tidak semua teori membantu langkah ini. Tapi, penelitian yang menyajikan data-data konkret kondisi organisasi akan lebih membantu dan kesimpulan serta rekomendasi penelitian tersebut bisa dijadikan dasar manajemen organisasi itu.

Para Pemimpin Umat/Pastor/Dewan Paroki, dst. Seringkali mereka membutuhkan gambaran yang konkret tentang orang muda, yang mereka dilayani bersama umat yang lain. Namun belum tersedianya gambaran tersebut membuat mereka kesulitan menerapkan pelayanan yang memperhatikan kekhasan orang muda. Sehingga, tidak heran jika model, gaya dan teknik yang mereka terapkan seringkali tidak sesuai dengan model dan gaya orang muda. Dengan mempelajari hasil penelitian tentang orang muda, mereka tentunya semakin berpeluang menyesuaikan pelayanan seperti yang diharapkan oleh orang muda.

SULITKAH MELAKUKAN PENELITIAN?
Penelitian sesungguhnya tidak terlalu sulit dilakukan, terlebih bagi orang muda yang rajin dan tidak mudah puas dengan keadaan dirinya. Sesulit apapun melakukan penelitian sama dengan kesulitan yang kita alami saat pertama kali berlatih berenang atau mengendarai sepeda. Butuh proses jatuh dan bangun untuk semakin lama semakin sempurna. Jika sudah terbiasa, semuanya serasa mudah.

Namun, ada beberapa prasangka yang membuat penelitian terkesan sulit dan mustahil dilakukan, misalnya:
(1) prasangka bahwa penelitian adalah pekerjaan kaum berpendidikan tinggi (perguruan tinggi) saja. Berarti, harus menempuh pendidikan tinggi dahulu, baru bisa mengadakan penelitian.
(2) prasangka bahwa penelitian harus ilmiah. Padahal “ilmiah” tidak serta merta berarti sulit.

Hal yang terasa sulit dilakukan biasanya adalah:
(1) bersikap terbuka, meninggalkan prasangka, dan mengakhiri kemalasan belajar tentang penelitian.
(2) belajar dengan membaca buku-buku tentang penelitian.
(3) bertanya dan berdiskusi tentang penelitian penuh percaya diri, dan tidak takut dianggap goblok atau kurang gaul karena tidak tahu penelitian.
(4) mengawali penelitian dengan perencanaan yang serius.
(5) setia menapaki tahap-tahap penelitian dari awal hingga akhir, tidak mudah menyerah di tengan jalan.
(6) meyakinkan kawan-kawan dan mengajak mereka untuk terlibat dalam penelitian. (***)


Felix Iwan Wijayanto
Peneliti Divisi Litbang K3AJ

No comments: