03 January 2007

PENDAMPINGAN REAL dan PENDAMPINGAN FORMAL

Oleh: Felix Iwan Wijayanto

PROLOG

Pendampingan OMK merupakan karya bersama seluruh umat Gereja. Namun, karya ini bukanlah barang mudah untuk dilaksanakan mengingat pesatnya perubahan dan perkembangan situasi OMK itu sendiri serta situasi Gereja dan masyarakat yang melingkupinya. Salah satu kesulitan yang seringkali dihadapi adalah kurangnya pengalaman, wacana, perangkat pengelolaan (manajemen) kegiatan serta proses pengembangan dari karya pendampingan itu sendiri.

Untuk itulah tulisan ini ingin mensharingkan sejumlah model pendampingan orang muda Katolik, sejauh yang pernah dialami, dipikirkan, didiskusikan/dikaji dan dikembangkan oleh Komisi Kepemudaan KAJ (K3AJ) bersama dengan sejumlah volunteer, para pastor Moderator Kepemudaan Dekenat dan Paroki dan sejumlah pengurus Seksi Kepemudaan Paroki, serta pendamping dan organisator sejumlah kelompok kategorial di KAJ.

Secara umum, pendampingan orang muda Katolik terbagi ke dalam dua kategori besar, yakni: pendampingan real dan pendampingan formal.

PENDAMPINGAN REAL
Yakni model pendampingan yang berlangsung dalam dinamika kehidupan sehari-hari orang muda Katolik itu sendiri, dengan segala persoalan dan tantangannya. Pendamping utama dalam pendampingan real ini sesungguhnya adalah orang tua dan keluarga setiap orang muda, dibantu oleh setiap warga masyarakat di komunitas basis mana orang muda tersebut tinggal, termasuk seluruh umat Katolik di lingkungan, wilayah, stasi, atau paroki setempat.

Pendampingan real ini dilakukan dalam bentuk interaksi langsung dan komunikasi antar pribadi. Wujud perhatiannya pun bersifat pribadi/personal, sehingga membutuhkan kedekatan pribadi/personal pula.

PENDAMPINGAN FORMAL
Yakni pendampingan yang berlangsung dalam wadah-wadah formal dan kegiatan-kegiatan formal, atau yang sengaja dibentuk dan diadakan untuk tujuan-target yang lebih khusus, serta orang muda sebagai subyek dampingan yang memiliki kriteria khusus.

Pendampingan formal bisa dilakukan dalam berbagai cara, misalnya melalui:

Pertama, pemberdayaan kelompok/komunitas/organisasi formal.Misalnya melalui Mudika lingkungan, wilayah, paroki, atau stasi, kelompok-kelompok kategorial orang muda Katolik, organisasi-organisasi kepemudaan (seperti Pemuda Katolik, PMKRI, dsb.).

Pemberdayaan kelompok/komunitas/organisasi formal mungkin akan menghadapi situasi sbb.:

(1) Dibutuhkannya kelompok/komunitas/organisasi formal orang muda Katolik di tingkat basis, tapi belum ada yang berinisiatif membentuknya. Untuk itu, perlu inisiatif awal dari seseorang/sejumlah dalam mengorganisir pertemuan-pertemuan untuk membicarakan pembentukan wadah formal berupa suatu kelompok/komunitas/organisasi orang muda Katolik.

(2) Sudah terbentuknya kelompok/komunitas/organisasi formal orang muda Katolik di tingkat basis, tapi belum efektif. Maka perlu review organisasi, rancang bangun ulang, evaluasi dan refleksi yang berkelanjutan (menggunakan wadah pertemuan studi-refleksi atau rapat kerja).

Kedua, program-program kegiatan dari kelompok/komunitas/organisasi formal
Misalnya melalui pelatihan, studi dan refleksi, retret dan rekoleksi, workshop, diskusi, sarasehan dan seminar (in-door atau out-door). Pendampingan program-program kegiatan ini mungkin akan menghadapi situasi-situasi sbb.:

(1) Sudah berlangsungnya sekian banyak aktivitas, program dan rencana kelompok/komunitas/organisasi orang muda Katolik di tingkat basis, tapi ada kebutuhan untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu atau kualitasnya. Untuk itu, bisa diselenggarakan kegiatan-kegiatan retret/rekoleksi untuk mengembangkan spiritualitas, studi-refleksi atau raker untuk mengembangkan program, scenario building (membangun skenario) diteruskan strategic planning (perencanaan strategis) untuk menemukan gambaran situasi masa depan yang mungkin terjadi dan diikuti perancangan strategi ke depan.

(2) Keikutsertaan anggota komunitas/kelompok/organisasi minimal. Maka dibutuhkan penelitian (kecil/sederhana) untuk mengetahui penyebab minimalnya keikutsertaan anggota dalam program kegiatan, analisis kebutuhan, minat dan permasalahan bersama pengurus, penyelenggaraan program dengan metode-metode yang lebih bervariasi tapi sesuai kebutuhan, minat, dan permasalahan yang dihadapi.

(3) Anggota terlibat aktif, tapi hanya salah satu aspek saja yang terbangun (mungkin hanya aspek kepuasan/kegembiraan berkumpul, penyegaran atau rekreasi dan pemenuhan kebutuhan akan hiburan yang biasanya dijadikan prioritas). Maka bisa dilakukan workshop program untuk menjelajahi alternatif-alternatif program dan metodenya sekaligus, dengan aspek-aspek pengembangan anggota yang lebih kaya dan lengkap. Misalnya:
(a) Pengembangan spiritualitas iman (role-play peristiwa Kitab Suci dan refleksinya sekaligus, ibadat kreatif, dsb.).
(b) Pengembangan pola berpikir kritis (pelatihan kerangka berpikir, diskusi/dialog tematis, dsb.).
(c) Pengembangan kepedulian sosial (eksposure/kunjungan sosial, live-in/tinggal sementara di komunitas miskin, pendampingan sosial untuk warga, perempuan/ibu-ibu, atau anak-anak.
(d) Pengembangan/pelatihan kepribadian-kreativitas-ketrampilan (kepercayaan diri, public speaking/berbicara di muka umum, bermusik, bernyanyi, teater/drama, kerajinan tangan, memasak/tata boga, dsb.)

Ketiga, pendampingan peserta didik di sekolah/perguruan tinggi
Pendampingan formal melalui jalur ini perlu dibedakan (bukan dipisahkan) dengan proses berlangsungnya pengajaran di dalam kelas, karena yang dimaksudkan dengan pendampingan formal melalui jalur sekolah atau perguruan tinggi justru membutuhkan pendekatan dan komunikasi yang jauh lebih kompleks cakupannya dibandingkan dengan lingkup belajar-mengajar di kelas antara pendidik dan peserta didik. (***)


Felix Iwan Wijayanto
Peneliti Divisi Litbang K3AJ

No comments: