Oleh: Felix Iwan Wijayanto
Sampai saat ini, masih banyak fakta menunjukkan bahwa mengelola kegiatan kaum muda Katolik bukanlah hal yang mudah dilakukan. Mungkin banyak orang akan menolak anggapan ini. Alasannya, toh masih banyak juga kegiatan kaum muda diselenggarakan. Lagi pula, banyak anak muda masih antusias mengikutinya.
Namun, ada hal yang perlu dicatat: kegiatan yang dilakukan memang banyak, tapi makin banyak pula kebutuhan yang belum terjawab, serta banyak masalah yang belum terselesaikan. Sehingga, besar kemungkinan terjadi: banyak kegiatan dilakukan, banyak dana dihabiskan (dihamburkan?), namun sekedar supaya kegiatan terlaksana, dan bukan memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah.
Sekedar ilustrasi, dalam suatu pertemuan antar pendamping kaum muda, seorang pendamping membagikan pengalamannya:
… Saya sudah menjadi Mudika sejak 25 tahun yang lalu. Namun anehnya, permasalahan yang saya temukan dan alami 25 tahun yang lalu, kok masih saja terjadi saat ini? Masak….selama 25 tahun tak satupun pemecahan masalah dilakukan? Atau mungkin banyak cara ditempuh, tetap saja tidak memecahkan masalahnya? Sampai-sampai waktu saya ungkapkan ini kepada kaum muda yang saya dampingi, mereka menyebutnya “permasalahan klasik”, alias akan selalu terjadi. Tapi, benarkah? …
Menurut penulis, barangkali bukannya kita kurang banyak menyelenggarakan kegiatan. Kita juga bukannya tak pernah memikirkan masalah semacam hal di atas. Namun, mungkin hanya kita kurang mengelola kegiatan secara tepat.
ANTARA KEBUTUHAN DAN KEINGINAN
Banyak kegiatan diusulkan, direncanakan, dan dilaksanakan –katanya—atas dasar kebutuhan kaum muda. Pertanyaan penulis: benarkah itu suatu kebutuhan? Mengapa kebutuhan itu muncul? Pertimbangan dan parameter (alat ukur) apa yang kita pakai untuk menentukan bahwa itu benar-benar kebutuhan?
Mengapa penulis mempertanyakan hal ini? Tak lain karena seringkali kita mencampuradukkan antara kebutuhan dan keinginan. Padahal kedua hal itu jelas-jelas berbeda.
Sebagai contoh, penulis saat ini ingin memiliki handphone tipe terbaru. Alasannya: handphone tersebut dilengkapi dengan penerima gelombang radio siaran, kamera digital, polyponic ringtone, dsb. Itu adalah sebuah keinginan. Tapi, apakah penulis seharusnya membeli handphone sejenis itu sekarang? Belum tentu! Karena hal di atas baru sebatas keinginan memiliki handphone tipe terbaru. Tapi benarkah memilikinya benar-benar kebutuhan penulis saat ini? Sedangkan pada saat ini penulis masih bisa mendengarkan siaran radio dari pesawat radio di rumah maupun di kantor. Kebutuhan mendokumentasikan peristiwa penting pun masih bisa penulis lakukan dengan kamera saku. Sedangkan untuk mengetahui masuknya panggilan telepon maupun SMS, penulis tidak sangat dipengaruhi apakah jenis ringtone-nya bertipe polyponic atau yang biasa-biasa saja. Kesimpulan penulis: belum ada kebutuhan untuk memiliki handphone dengan kelengkapan seperti di atas. Maka, keputusan paling bijak adalah: tidak membeli handphone itu sekarang dan bisa mengalihkan sejumlah uang untuk digunakan membeli barang lain yang lebih dibutuhkan atau ditabung.
Membedakan kebutuhan dengan keinginan biasanya mudah dipikirkan, tapi sulit dilaksanakan. Biasanya hal ini disebabkan oleh terlalu dominannya keinginan dibandingkan kebutuhan. Hasrat untuk mewujudkan keinginan telah dipengaruhi oleh lebih banyak hal dibandingkan hasrat untuk memenuhi kebutuhan, kecuali kebutuhan primer (makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal).
Jika kegiatan kaum muda diawali dengan kesalahan membedakan, meneliti dan menentukan antara kebutuhan dan keinginan, maka semakin banyak kegiatan itu dilaksanakan hanya berdasar keinginan dibandingkan kebutuhan. Sehingga banyak kegiatan menyedot banyak pemikiran, tenaga, waktu dan dana demi keinginan, tapi kebutuhan-kebutuhan kaum muda justru tidak terpenuhi.
PERLU MEMPERHATIKAN PERMASALAHAN
Selain kebutuhan, sebuah kegiatan perlu dilakukan berdasar pada permasalahan tertentu yang sedang terjadi. Permasalahan biasanya terlihat sebagai suatu kejadian atau situasi yang telanjur terjadi tapi menimbulkan kerugian-kerugian tertentu (bukan melulu kerugian dalam arti ekonomi). Selain itu, suatu permasalahan perlu juga dilihat apakah ia “mendesak” (akan semakin merugikan jika tidak segera diatasi), atau ia “mendasar” (masih terlalu tak kentara namun menjadi penyebab dasar atau akar masalah atas munculnya permasalahan-permasalahan atau kerugian-kerugian yang lain). Oleh karena itu kita perlu mengidentifikasi prioritas masalah baik yang mendesak maupun yang mendasar.
Sayangnya, banyak kaum muda dan –bahkan—para pendampingnya kurang terbiasa untuk mengalami proses (yang sering tidak mudah dan kurang praktis) untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan di atas. Akibatnya: banyak orang mendukung dan menyetujui diadakannya kegiatan hanya atas dasar banyak orang yang menginginkannya. Sebaliknya, sedikit orang yang setia pada proses: selalu jeli dan kritis untuk mengidentifikasi dan menilai kebutuhan dan permasalahan terlebih dahulu sebelum menyelenggarakan suatu kegiatan. Apalagi jika hal terakhir tersebut biasanya mengandung resiko munculnya reaksi-reaksi tidak setuju bahkan tidak suka pada usaha tersebut. Maka, “Daripada dibenci banyak orang, mending ikut arus aja deh…”.
KONSISTENSI (KESESUAIAN) ANTAR UNSUR PERENCANAAN KEGIATAN
Penulis menawarkan suatu urutan cara berpikir sekaligus cara kerja untuk mengelola kegiatan kaum muda yang perlu dilakukan secara konsisten/sesuai antar unsur/langkahnya.
Pertama, identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang dirasakan/terjadi.
Kedua, perumusan tujuan dan target kegiatan yang jelas (memenuhi kebutuhan atau memecahkan permasalahan point pertama).
Ketiga, pemilihan metode yang tepat (mampu memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah dan mampu menciptakan situasi sesuai tujuan dan target yang sudah dirumuskan secara jelas).
Keempat, mengelola tenaga yang melaksanakan (mencari orang yang setuju dan paham pada kebutuhan/permasalahan yang mendasari kegiatan, tujuan dan target serta metode yang dipilih, serta berkomitmen/setia secara serius).
Kelima, mengelola sumber daya yang dibutuhkan (meliputi perencanaan perangkat/fasilitas dan dana yang dibutuhkan untuk berkegiatan, sesuai point pertama hingga keempat).
Keenam, mengelola waktu yang tersedia (biasa disebut penjadwalan tahap-tahap kerja secara masuk akal dengan memperhatikan point pertama hingga kelima).
Ketujuh, monitoring (memperhatikan bersama secara serius pada perkembangan dan hambatan di setiap tahap-tahap kerja melalui komunikasi intensif, sesuai indikator/tolok ukur point pertama hingga kelima).
Kedelapan, evaluasi (menemukan kelebihan/kekuatan dan kekurangan/kelemahan setiap tahap kerja, sesuai indikator/tolok ukur point pertama hingga kelima).
Kesembilan, tindak lanjut (suatu kegiatan lanjutan yang perlu dilakukan jika pada saat evaluasi disimpulkan bahwa tujuan dan target program belum terpenuhi).
Kesepuluh, refleksi (mencari makna/pelajaran penting yang bermanfaat bagi perkembangan hidup sembari menyadari peran Allah dan interaksi kita denganNya dalam setiap tahap-tahap kerja). Refleksi ini penting dilakukan setiap kali (tidak hanya di akhir tahapan) untuk menumbuhkan spirit atau semangat melanjutkan kegiatan lain.
Unsur pertama hingga keenam biasa dilaksanakan secara urut, jangan sampai terbolak-balik. Sedangkan unsur ketujuh hingga kesepuluh dilaksanakan di setiap pelaksanaan unsur pertama hingga keenam.
Penulis merasa perlu menawarkan cara kerja sekaligus cara berpikir semacam ini mengingat beberapa kejadian yang sering penulis jumpai seperti misalnya:
a. Demi memuaskan keinginan (bukan kebutuhan apalagi permasalahan), bentuk kegiatan dalam metode tertentu yang sangat digemari/diinginkan ditentukan terlebih dahulu, baru kebutuhan/permasalahan, tujuan/target dan unsur-unsur yang lain “diperkosa” atau dipaksakan supaya membenarkan/mendukung pemuasan keinginan itu.
b. Kebutuhan/permasalahan sudah ditemukan dan dirumuskan secara jelas. Tapi gara-gara tidak diikuti perumusan tujuan dan target yang jelas, biasanya pelaksana kegiatan mengalami kesalahan dalam memilih metode yang tepat. Contoh kasus: kebutuhan untuk akrab satu sama lain dijawab dengan metode kompetisi olah raga memperebutkan kemenangan dan piala (banyak kejadian justru menunjukkan keakraban tidak terjalin, malah permusuhan dan baku hantam yang tejadi).
c. Seluruh unsur sudah dilaksanakan dengan baik, tapi evaluasi tidak dilakukan. Akibatnya tidak ada pelajaran penting tentang kekuatan/kelebihan dan kelemahan/kekurangan yang mampu mengembangkan pengalaman kegiatan selanjutnya.
d. Evaluasi dilakukan, tapi hanya mencari kekurangan dan kelemahan, dan tidak berusaha mencari kelebihan dan kekuatan. Akibatnya, terkesan semua pengorbanan tidak ada artinya, karena yang ditemukan hanya kelemahan dan kekurangan.
e. Evaluasi dilakukan, tapi hanya mencari kesalahan satu sama lain, apalagi secara emosional, dan tidak rasional. Akibatnya satu sama lain saling menyalahkan, bermusuhan, dan akhirnya menghambat kerja sama di lain kesempatan.
f. Seluruh unsur dilakukan dengan baik, tapi lupa melakukan refleksi. Akibatnya, kita terjebak pada aktivisme (kerja-kerja-kerja terus) tapi lupa “menimba” spirit atau semangat atas kerja itu dari Allah Sang Pemberi Kekuatan Hidup.
Melalui tulisan ini penulis berharap bisa menyumbangkan sedikit ide perubahan positif bagi penyelenggaraan kegiatan kaum muda. Meski demikian, penulis sadar, memulai perubahan bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan. Sebaliknya, tidak mau berubah atau mapan adalah pekerjaan yang paling mudah dijalankan. Untuk itu, apakah tulisan ini membantu atau benar-benar bermanfaat, bukan penulis yang menentukan. Pembacalah yang memutuskan. (***)
Felix Iwan Wijayanto
Peneliti Divisi Litbang K3AJ
Sampai saat ini, masih banyak fakta menunjukkan bahwa mengelola kegiatan kaum muda Katolik bukanlah hal yang mudah dilakukan. Mungkin banyak orang akan menolak anggapan ini. Alasannya, toh masih banyak juga kegiatan kaum muda diselenggarakan. Lagi pula, banyak anak muda masih antusias mengikutinya.Namun, ada hal yang perlu dicatat: kegiatan yang dilakukan memang banyak, tapi makin banyak pula kebutuhan yang belum terjawab, serta banyak masalah yang belum terselesaikan. Sehingga, besar kemungkinan terjadi: banyak kegiatan dilakukan, banyak dana dihabiskan (dihamburkan?), namun sekedar supaya kegiatan terlaksana, dan bukan memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah.
Sekedar ilustrasi, dalam suatu pertemuan antar pendamping kaum muda, seorang pendamping membagikan pengalamannya:
… Saya sudah menjadi Mudika sejak 25 tahun yang lalu. Namun anehnya, permasalahan yang saya temukan dan alami 25 tahun yang lalu, kok masih saja terjadi saat ini? Masak….selama 25 tahun tak satupun pemecahan masalah dilakukan? Atau mungkin banyak cara ditempuh, tetap saja tidak memecahkan masalahnya? Sampai-sampai waktu saya ungkapkan ini kepada kaum muda yang saya dampingi, mereka menyebutnya “permasalahan klasik”, alias akan selalu terjadi. Tapi, benarkah? …
Menurut penulis, barangkali bukannya kita kurang banyak menyelenggarakan kegiatan. Kita juga bukannya tak pernah memikirkan masalah semacam hal di atas. Namun, mungkin hanya kita kurang mengelola kegiatan secara tepat.
ANTARA KEBUTUHAN DAN KEINGINAN
Banyak kegiatan diusulkan, direncanakan, dan dilaksanakan –katanya—atas dasar kebutuhan kaum muda. Pertanyaan penulis: benarkah itu suatu kebutuhan? Mengapa kebutuhan itu muncul? Pertimbangan dan parameter (alat ukur) apa yang kita pakai untuk menentukan bahwa itu benar-benar kebutuhan?
Mengapa penulis mempertanyakan hal ini? Tak lain karena seringkali kita mencampuradukkan antara kebutuhan dan keinginan. Padahal kedua hal itu jelas-jelas berbeda.
Sebagai contoh, penulis saat ini ingin memiliki handphone tipe terbaru. Alasannya: handphone tersebut dilengkapi dengan penerima gelombang radio siaran, kamera digital, polyponic ringtone, dsb. Itu adalah sebuah keinginan. Tapi, apakah penulis seharusnya membeli handphone sejenis itu sekarang? Belum tentu! Karena hal di atas baru sebatas keinginan memiliki handphone tipe terbaru. Tapi benarkah memilikinya benar-benar kebutuhan penulis saat ini? Sedangkan pada saat ini penulis masih bisa mendengarkan siaran radio dari pesawat radio di rumah maupun di kantor. Kebutuhan mendokumentasikan peristiwa penting pun masih bisa penulis lakukan dengan kamera saku. Sedangkan untuk mengetahui masuknya panggilan telepon maupun SMS, penulis tidak sangat dipengaruhi apakah jenis ringtone-nya bertipe polyponic atau yang biasa-biasa saja. Kesimpulan penulis: belum ada kebutuhan untuk memiliki handphone dengan kelengkapan seperti di atas. Maka, keputusan paling bijak adalah: tidak membeli handphone itu sekarang dan bisa mengalihkan sejumlah uang untuk digunakan membeli barang lain yang lebih dibutuhkan atau ditabung.
Membedakan kebutuhan dengan keinginan biasanya mudah dipikirkan, tapi sulit dilaksanakan. Biasanya hal ini disebabkan oleh terlalu dominannya keinginan dibandingkan kebutuhan. Hasrat untuk mewujudkan keinginan telah dipengaruhi oleh lebih banyak hal dibandingkan hasrat untuk memenuhi kebutuhan, kecuali kebutuhan primer (makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal).
Jika kegiatan kaum muda diawali dengan kesalahan membedakan, meneliti dan menentukan antara kebutuhan dan keinginan, maka semakin banyak kegiatan itu dilaksanakan hanya berdasar keinginan dibandingkan kebutuhan. Sehingga banyak kegiatan menyedot banyak pemikiran, tenaga, waktu dan dana demi keinginan, tapi kebutuhan-kebutuhan kaum muda justru tidak terpenuhi.
PERLU MEMPERHATIKAN PERMASALAHAN
Selain kebutuhan, sebuah kegiatan perlu dilakukan berdasar pada permasalahan tertentu yang sedang terjadi. Permasalahan biasanya terlihat sebagai suatu kejadian atau situasi yang telanjur terjadi tapi menimbulkan kerugian-kerugian tertentu (bukan melulu kerugian dalam arti ekonomi). Selain itu, suatu permasalahan perlu juga dilihat apakah ia “mendesak” (akan semakin merugikan jika tidak segera diatasi), atau ia “mendasar” (masih terlalu tak kentara namun menjadi penyebab dasar atau akar masalah atas munculnya permasalahan-permasalahan atau kerugian-kerugian yang lain). Oleh karena itu kita perlu mengidentifikasi prioritas masalah baik yang mendesak maupun yang mendasar.
Sayangnya, banyak kaum muda dan –bahkan—para pendampingnya kurang terbiasa untuk mengalami proses (yang sering tidak mudah dan kurang praktis) untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan di atas. Akibatnya: banyak orang mendukung dan menyetujui diadakannya kegiatan hanya atas dasar banyak orang yang menginginkannya. Sebaliknya, sedikit orang yang setia pada proses: selalu jeli dan kritis untuk mengidentifikasi dan menilai kebutuhan dan permasalahan terlebih dahulu sebelum menyelenggarakan suatu kegiatan. Apalagi jika hal terakhir tersebut biasanya mengandung resiko munculnya reaksi-reaksi tidak setuju bahkan tidak suka pada usaha tersebut. Maka, “Daripada dibenci banyak orang, mending ikut arus aja deh…”.
KONSISTENSI (KESESUAIAN) ANTAR UNSUR PERENCANAAN KEGIATAN
Penulis menawarkan suatu urutan cara berpikir sekaligus cara kerja untuk mengelola kegiatan kaum muda yang perlu dilakukan secara konsisten/sesuai antar unsur/langkahnya.
Pertama, identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang dirasakan/terjadi.
Kedua, perumusan tujuan dan target kegiatan yang jelas (memenuhi kebutuhan atau memecahkan permasalahan point pertama).
Ketiga, pemilihan metode yang tepat (mampu memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah dan mampu menciptakan situasi sesuai tujuan dan target yang sudah dirumuskan secara jelas).
Keempat, mengelola tenaga yang melaksanakan (mencari orang yang setuju dan paham pada kebutuhan/permasalahan yang mendasari kegiatan, tujuan dan target serta metode yang dipilih, serta berkomitmen/setia secara serius).
Kelima, mengelola sumber daya yang dibutuhkan (meliputi perencanaan perangkat/fasilitas dan dana yang dibutuhkan untuk berkegiatan, sesuai point pertama hingga keempat).
Keenam, mengelola waktu yang tersedia (biasa disebut penjadwalan tahap-tahap kerja secara masuk akal dengan memperhatikan point pertama hingga kelima).
Ketujuh, monitoring (memperhatikan bersama secara serius pada perkembangan dan hambatan di setiap tahap-tahap kerja melalui komunikasi intensif, sesuai indikator/tolok ukur point pertama hingga kelima).
Kedelapan, evaluasi (menemukan kelebihan/kekuatan dan kekurangan/kelemahan setiap tahap kerja, sesuai indikator/tolok ukur point pertama hingga kelima).
Kesembilan, tindak lanjut (suatu kegiatan lanjutan yang perlu dilakukan jika pada saat evaluasi disimpulkan bahwa tujuan dan target program belum terpenuhi).
Kesepuluh, refleksi (mencari makna/pelajaran penting yang bermanfaat bagi perkembangan hidup sembari menyadari peran Allah dan interaksi kita denganNya dalam setiap tahap-tahap kerja). Refleksi ini penting dilakukan setiap kali (tidak hanya di akhir tahapan) untuk menumbuhkan spirit atau semangat melanjutkan kegiatan lain.
Unsur pertama hingga keenam biasa dilaksanakan secara urut, jangan sampai terbolak-balik. Sedangkan unsur ketujuh hingga kesepuluh dilaksanakan di setiap pelaksanaan unsur pertama hingga keenam.
Penulis merasa perlu menawarkan cara kerja sekaligus cara berpikir semacam ini mengingat beberapa kejadian yang sering penulis jumpai seperti misalnya:
a. Demi memuaskan keinginan (bukan kebutuhan apalagi permasalahan), bentuk kegiatan dalam metode tertentu yang sangat digemari/diinginkan ditentukan terlebih dahulu, baru kebutuhan/permasalahan, tujuan/target dan unsur-unsur yang lain “diperkosa” atau dipaksakan supaya membenarkan/mendukung pemuasan keinginan itu.
b. Kebutuhan/permasalahan sudah ditemukan dan dirumuskan secara jelas. Tapi gara-gara tidak diikuti perumusan tujuan dan target yang jelas, biasanya pelaksana kegiatan mengalami kesalahan dalam memilih metode yang tepat. Contoh kasus: kebutuhan untuk akrab satu sama lain dijawab dengan metode kompetisi olah raga memperebutkan kemenangan dan piala (banyak kejadian justru menunjukkan keakraban tidak terjalin, malah permusuhan dan baku hantam yang tejadi).
c. Seluruh unsur sudah dilaksanakan dengan baik, tapi evaluasi tidak dilakukan. Akibatnya tidak ada pelajaran penting tentang kekuatan/kelebihan dan kelemahan/kekurangan yang mampu mengembangkan pengalaman kegiatan selanjutnya.
d. Evaluasi dilakukan, tapi hanya mencari kekurangan dan kelemahan, dan tidak berusaha mencari kelebihan dan kekuatan. Akibatnya, terkesan semua pengorbanan tidak ada artinya, karena yang ditemukan hanya kelemahan dan kekurangan.
e. Evaluasi dilakukan, tapi hanya mencari kesalahan satu sama lain, apalagi secara emosional, dan tidak rasional. Akibatnya satu sama lain saling menyalahkan, bermusuhan, dan akhirnya menghambat kerja sama di lain kesempatan.
f. Seluruh unsur dilakukan dengan baik, tapi lupa melakukan refleksi. Akibatnya, kita terjebak pada aktivisme (kerja-kerja-kerja terus) tapi lupa “menimba” spirit atau semangat atas kerja itu dari Allah Sang Pemberi Kekuatan Hidup.
Melalui tulisan ini penulis berharap bisa menyumbangkan sedikit ide perubahan positif bagi penyelenggaraan kegiatan kaum muda. Meski demikian, penulis sadar, memulai perubahan bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan. Sebaliknya, tidak mau berubah atau mapan adalah pekerjaan yang paling mudah dijalankan. Untuk itu, apakah tulisan ini membantu atau benar-benar bermanfaat, bukan penulis yang menentukan. Pembacalah yang memutuskan. (***)
Felix Iwan Wijayanto
Peneliti Divisi Litbang K3AJ
No comments:
Post a Comment