23 December 2006

KOMUNIKASI ANTARA K3AJ dan PENDAMPING KEPEMUDAAN PAROKI/DEKENAT DI KAJ (2006)


PENGANTAR
Pastoral Kepemudaan di KAJ membutuhkan proses kerja sama dan komunikasi efektif antara Komisi Kepemudaan KAJ (K3AJ) dan para pendamping kepemudaan di paroki-paroki dan dekenat-dekenat di seluruh KAJ. Untuk itu K3AJ perlu memahami bagaimana proses komunikasi tersebut berlangsung selama ini dan apa saja masalah dan kendala yang menghambatnya. Maka Divisi Litbang K3AJ menyelenggarakan penelitian ini.

Selain itu, mempertimbangkan bahwa dalam proses komunikasi tersebut K3AJ bertanggung jawab untuk membantu para pendamping kepemudaan di paroki/dekenat dengan bahan-bahan pendampingan, maka penelitian ini sekaligus ingin mengetahui sejauh mana kebutuhan pendamping kepemudaan paroki/dekenat atas informasi dan bahan-bahan pendampingan dari KAJ (khususnya K3AJ).

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif (memahami masalah komunikasi secara khas, subyektif, kontekstual dalam ruang dan waktu tertentu dengan cara mengintepretasikan secara mendalam). Metode yang dipakai adalah Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terfokus, yang menghadirkan 27 orang ketua/pengurus Seksi Kepemudaan dan pengurus Mudika dari 20 paroki/7 dekenat di KAJ (sebagai informan).

PROSES KOMUNIKASI K3AJ dan PENDAMPING KEPEMUDAAN
Proses komunikasi antara K3AJ dan pendamping kepemudaan paroki/dekenat berlangsung secara konvergen (mengandung feed-back atau umpan balik dan timbal balik dari K3AJ kepada pendamping kepemudaan paroki/dekenat dan sebaliknya dari pendamping kepemudaan paroki/dekenat kepada K3AJ). Tapi proses komunikasi tersebut tidak bersifat partisipatif karena K3AJ diposisikan “ di atas” dan tidak setara dengan pendamping kepemudaan paroki/dekenat.

Selama ini para informan secara umum menilai bahwa upaya K3AJ berkomunikasi dengan pendamping kepemudaan paroki/dekenat sudah cukup baik. Mereka menilai informasi dari K3AJ penting untuk dikomunikasikan. Namun, nilai penting itu tergantung apakah isi informasi tersebut bisa diimplementasikan sesuai kondisi orang muda di paroki masing-masing. Karena itulah para pendamping kepemudaan paroki/dekenat merespon positif pengiriman informasi/bahan pendampingan dari K3AJ.

Selain menerima informasi yang dikirimkan K3AJ, para pendamping kepemudaan paroki/dekenat juga mengambil insiatif untuk berkomunikasi dengan K3AJ untuk (1) mencari tahu kegiatan/program K3AJ yang bisa diikuti, (2) meningkatkan peran pendamping dalam dinamika orang muda yang didampingi, (3) mendiskusikan masalah minimnya jumlah orang muda yang terlibat dalam kegiatan di paroki, (4) mendorong K3AJ agar mengetahui kondisi “lapangan” atau “basis” pendampingan orang muda di paroki-paroki, dan (5) memenuhi kebutuhan orang muda atas informasi/bahan pendampingan dari K3AJ.

Selain ke K3AJ, para pendamping kepemudaan paroki/dekenat juga berinisiatif mencari informasi dan bahan-bahan pendampingan yang relevan ke sumber-sumber lain yang menyediakannya (misalnya media massa).

MASALAH PENGHAMBAT PROSES KOMUNIKASI
Meski terbilang cukup lancar, terdapat sejumlah masalah yang menghambat proses komunikasi antara K3AJ dan pendamping kepemudaan paroki/dekenat, yakni:

Pertama, penghambat yang berasal dari K3AJ
(1) Terlambatnya pengiriman informasi dari K3AJ dan penerimaan informasi oleh pendamping kepemudaan paroki/dekenat.
(2) K3AJ kadang-kadang membatasi diri dan tidak menghadiri undangan dari paroki (yang membutuhkan informasi).
(3) K3AJ kadang-kadang tidak mengirimkan tanggapan/umpan balik (feed-back) dan tidak menindaklanjuti informasi dari paroki.
(4) K3AJ sulit dihubungi via telepon oleh pendamping kepemudaan yang membutuhkan informasi.
(5) Informasi yang dikirimkan K3AJ kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi orang muda di paroki.
(6) K3AJ tidak mau mendengarkan harapan pendamping kepemudaan paroki/dekenat.
(7) Bahasa dalam informasi/bahan pendampingan yang dikirimkan K3AJ terlalu sulit dipahami pendamping kepemudaan paroki/dekenat.
(8) K3AJ kurang melakukan kontrol, pengamatan (monitoring), dan tindak lanjut terhadap penyampaian informasi kepada pendamping kepemudaan paroki/dekenat.

Kedua, penghambat yang berasal dari pendamping kepemudaan paroki/dekenat
(1) Kinerja kesekretariatan di beberapa paroki masih belum memadai/baik sehingga menyebabkan informasi tertahan di sekretariat dan tidak sampai ke pendamping kepemudaan atau pengurus Mudika yang dituju.
(2) Terjadinya distorsi/bias informasi karena penyampaian informasi yang tidak secara langsung kepada sasaran yang dituju (pendamping kepemudaan paroki) namun melalui perantara.
(3) Adanya penyaringan (filterisasi) informasi dari penerima pertama kepada penerima berikutnya sehingga informasi tidak sampai kepada sasaran yang dituju.
(4) Terjadinya gap (kesenjangan) antara pastor paroki dengan pendamping kepemudaan dan orang muda di paroki sehingga menyebabkan informasi dari K3AJ kepada pendamping/orang muda tidak didukung pastor paroki.
(5) Pendamping kepemudaan tidak melakukan check-mail sehingga tidak mengetahui informasi dari K3AJ yang disampaikan via e-mail.
(6) Pendamping kepemudaan paroki/dekenat tidak mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dikomunikasikan kepada K3AJ atau merasa tidak ada yang perlu mereka komunikasikan kepada K3AJ.

Ketiga, penghambat yang dipengaruhi K3AJ sekaligus/bersama pendamping kepemudaan paroki/dekenat
Tidak ditemukannya titik tengah (cara berpikir, gagasan/ide) antara K3AJ dan pendamping kepemudaan paroki/dekenat sehingga keduanya mengalami kejenuhan dalam berkomunikasi.

KEBUTUHAN INFORMASI PENDAMPING KEPEMUDAAN
Beberapa informasi yang dibutuhkan para pendamping kepemudaan paroki/dekenat adalah:

(1) Arah pastoral kepemudaan (terutama yang relevan untuk lingkup internal paroki), visi dan misi kepemudaan.
(2) Strategi dan teknik pendampingan orang muda yang tepat.
(3) Cara-cara mengumpulkan orang muda.
(4) Teknik pengelolaan dana (khususnya yang dibutuhkan dalam penyelengaraan misa inovatif orang muda).
(5) Kegiatan yang dijalankan oleh K3AJ yang mungkin bisa dijadikan alternatif kegiatan bagi orang muda dan pendamping kepemudaan paroki

BAHAN PENDAMPING yang DIBUTUHKAN PENDAMPING KEPEMUDAAN
(1) Pedoman karya pastoral kepemudaan (seperti buku Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda yang diterbitkan oleh Komkep KWI).
(2) Posisi dan peran Mudika (dalam seluruh dinamika kehidupan Gereja).
(3) Arah atau anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD-ART) Seksi Kepemudaan.

REKOMENDASI PENELITIAN
Setelah menganalisis hasil FGD tersebut, Divisi Litbang K3AJ merekomendasikan beberapa hal, yakni:

(1) K3AJ dan pendamping kepemudaan paroki/dekenat sama-sama berinisiatif melakukan komunikasi, lebih-lebih secara tatap muka, satu mengundang yang lain untuk bertemu.
(2) Setiap kali K3AJ mengirimkan informasi melalui kotak surat paroki-paroki di Wisma Uskup, K3AJ harus memberitahu sasaran informasi tersebut via telepon/sms agar segera mengambilnya.
(3) K3AJ diharapkan sudah mengirimkan rencana program-program setiap tahun kepada para pendamping kepemudaan paroki/dekenat di awal tahun.
(4) Setiap undangan program hendaknya dikirimkan paling lambat satu minggu sebelum pelaksanaan program, bahkan kalau bisa dua bulan sebelum pelaksanaan program.
(5) Setiap undangan program perlu dilengkapi penjelasan tentang agenda program dan materinya.
(6) K3AJ perlu menjalin komunikasi intensif dengan contact person paroki dan dekenat dalam memperlancar komunikasi antara K3AJ dan pendamping kepemudaan paroki/dekenat.
(7) Sebaiknya contact person tersebut merupakan representasi/ wakil orang muda paroki/forum kepemudaan dekenat.
(8) Sebaiknya K3AJ mengupayakan komunikasi langsung, dalam arti menyasar secara tepat seseorang atau sekelompok orang muda yang dimaksudkan, tidak melalui perantaraan pihak lain.
(9) K3AJ hendaknya menggunakan media-media yang bersifat langsung, tepat dan cepat, yakni telepon selular atau handphone, khususnya melalui sms (short message service).
(10) Sedangkan media cetak (tabloid, majalah, surat kabar atau newspaper), e-mail (bisa melalui sistem mailing list), telepon dan papan pengumuman (di gereja paroki) perlu dimanfaatkan lebih maksimal.
(11) K3AJ perlu mengubah dan memperbaiki format bahan-bahan pendampingan: (a) tidak harus selalu dalam bentuk buku, tapi drama atau cerita yang divisualisasikan dan direkam dalam video compact disk (VCD) agar bisa ditonton orang muda secara bersama-sama. (b) Kalaupun dalam format buku, isi dan kemasannya benar-benar berdasarkan kondisi minat baca, gaya bahasa dan latar belakang masalah orang muda. (c) Pembahasaan buku hendaknya lebih sederhana agar mudah dipahami oleh pendamping kepemudaan paroki/dekenat dan orang muda. (d) Ujilah mudah-sulitnya pembahasaannya kepada beberapa OMK sampel (bukan pengurus/volunteer K3AJ maupun contact person paroki) terlebih dahulu.
(12) K3AJ diharapkan datang/berkunjung ke paroki/dekenat dan bertemu dengan para pendamping agar menyenangkan mereka dan “mencari tahu” kondisi orang muda di paroki-paroki dan pendampingan yang dilakukan terhadap mereka.
(13) K3AJ perlu memanfaatkan forum kepemudaan dekenat agar dapat menghubungi setiap paroki melalui para wakil paroki-paroki dalam forum tersebut.
(14) K3AJ perlu menyosialisasikan profil, hakekat, visi, misi, strategi, program, dan struktur K3AJ (termasuk empat divisi dalam K3AJ) serta posisi para pendamping kepemudaan paroki/dekenat dalam struktur tersebut kepada pendamping kepemudaan paroki dan dekenat.
(15) K3AJ perlu menyelenggarakan program-program pembinaan, pelatihan/kursus, seminar dan pembekalan pengurus dan pendamping kepemudaan, pelatihan tentang penelitian dan pengembangan spiritualitas iman para pendamping kepemudaan.
(16) K3AJ diharapkan mengembangkan kegiatan untuk memperkenalkan kitab suci, liturgi dan katekese kepada orang muda dengan memperhatikan arah minat dan konteks orang muda itu sendiri.
(17) K3AJ perlu mengadakan FGD secara rutin (tiga/enam bulan sekali) sebagai arena sharing (berbagi) di antara para pendamping kepemudaan dekenat/paroki tentang kegiatan di paroki masing-masing, tema kegiatan dan pembicara dalam kegiatan tersebut, sebagai bahan masukan satu sama lain dan bisa menjadi data base bagi K3AJ.
(18) K3AJ perlu memanfaatkan FGD sebagai metode penggalian data kepemudaan dalam konteks masalah lain yang ingin diteliti K3AJ di masa mendatang.

TIM PENELITI
Felix Iwan Wijayanto (koordinator), Anna Rosita Liwun, Emanuel Pandega, Maria Olivia, Nico Tasiam, Mawar Maria Pajouw, F.X. Sigit Kurniawan, Theresia Rini.

No comments: