Banyak OMK mengeluhkan kurangnya kepercayaan orang tua, pemuka umat, dan pemimpin Gereja kepada mereka. “Kayaknya … apa yang kita pikirin dan lakuin salah melulu deh …” begitu ungkapan seorang anak muda di sebuah sarasehan Mudika paroki. Benarkah?
85% OMK di KAJ membutuhkan pemahaman/pemakluman ketika mereka mengalami kesalahan.
(Survai Kebutuhan OMK KAJ - Divisi Litbang K3AJ, 2006)
“Selagi muda, bolehlah salah …” demikian komentar seorang pendamping Mudika menanggapi. Dan, sepertinya K3AJ dan para pendamping OMK di KAJ perlu menggerakkan kesadaran bersama tentang pentingnya “paradigma proses” dalam pendampingan dan kegiatan OMK, bahwa untuk meningkatkan kualitas pribadi dan kelompok, OMK harus tekun dan sabar mengalami “jatuh-bangun” dan kesalahan. Para pendamping pun harus tekun dan sabar mendampingi OMK dalam pengalaman “jatuh-bangun” tersebut. OMK boleh salah!
No comments:
Post a Comment